Pages

Pages

Recipes

Dongeng

Food Photography

Review

Sos Med

S

Risalah Tiga Hati (9)

May 8, 2018

Spaghetti-Warung-Pasta

Kupandangi laki-laki di depanku yang asik memainkan jari-jarinya. Aku tau sekali kebiasaan itu, kebiasaan yang datang setiap dia gelisah yang kali ini membuatku resah.

Ga, kamu kenapa aih? Apa yang ingin kamu bicarakan? Apakah kau akan mengumumkan bahwa akhirnya ada perempuan hebat yang membuatmu jatuh cinta? Aku tak berani membayangkan bahwa perempuan itu adalah mahasiswi yang mengantarkan minuman waktu itu?

"Hai Yo, sendirian?" tiba-tiba ada suara yang kukenal menegurku. Kualihakan pandanganku dari laptopku dan melihat sosok Tito yang menjulang tinggi dihadapanku. "Hai. Iya nih. Elo sama siapa?"
"Sendiri juga" lalu dia duduk di depanku. Dan entah apa yang mendorongku untuk bercerita padanya soal kata-kata Dirga waktu itu.

"Ah, gaya aja itu dia. Setau gue sih ada satu cewek di kampuslo yang bikin dia panas dingin. Memang elo gak tau?" matanya tajam ke arahku.
"Gak tau" susah payah kusembunyikan luka dalam jawabanku. Tito masih menatapku dengan tajam seolah ingin membongkar isi hatiku.
"Artinya elo kurang peka. Coba mulai sekarang elo buka matalo lebar-lebar" katanya sambil berdiri dan melangkah pergi. "Gue pamit dulu. Oya, buka hatilo juga deh" dan dia pergi dengan meninggalkan sejuta tanya dan rasa sakit di dada. Aku kurang peka? Ah jangan-jangan dia yang membuat Dirga jatuh cinta.

Ku pandangi lagi laki-laki di depanku yang sekarang sibuk mengaduk-aduk spaghettinya.
Ga, stop it! You make me nervous! Jeritku dalam hati.

"Sorry aku telat"
Refleks kutengadahkan kepalaku, suara itu, suara yang pernah membuatku rindu. Dan iya, itu suara Indra.

"Hai Yo", sapanya sambil mengulurkan tangan.

"Halo Ndra", kupalingkan wajah dan memandang Dirga dengan tatapan "Elo tau dia ke sini?" Dan kulihat ia menggangguk. Sekilas kulihat matanya meredup. Sorot mata itu seperti meneriakkan luka.

Ga, apa arti semua ini?

No comments :

Post a Comment

Instagram