Pages

Pages

Recipes

Dongeng

Food Photography

Review

Sos Med

S

Green-Tea-(Ice-Blended)

Hari ini terasa pengap, entah karena AC ruangan ini yang mulai berkurang performanya atau karena pemandangan di luar sana. Dari sini bisa kurasakan bahwa mahasiswi-mahasiswi baru itu mengaguminya, bahkan salah satu diantara mereka terlihat berusaha keras menarik perhatiannya.

Hai! Kamu cemburu Yo!

Bisa kurasakan bahwa pipiku memerah mendengar bisikan kata hatiku sendiri.

Rasa ini datang tanpa kusadari, yang kuingat adalah kejadian malam itu setelah aku memutuskan untuk berpisah dengan dia yang jauh di sana.

"Ga, elo dimana?"
"Di kampus Yo"
"Gue pengen ketemu, boleh?"
"Boleh. Elo gue jemput ya"
"Gak usah Ga, ini gue udah di jalan kok. Elo tunggu aja ya"

Lalu kami menghabiskan malam itu mengitari lingkar dalam kota tanpa suara. Seperti tau apa yang terjadi dengan diriku, tak ada satupun kata yang dia ucapkan, tatapannya lurus menelusuri jalan. Kupandangi wajahnya lewat ujung ekor mataku dan entah kenapa, hati ini terasa hangat. Dan malam itu kuhabiskan dengan menikmati wajahnya diam-diam. Sejak itu, perasaan ini tumbuh tanpa bisa kutahan.

"Kak, ini buat kakak" tiba-tiba mahasiswi yang tadi berbicara dengannya sudah berdiri di depan mejaku dan menyodorkan segelas ice blended green tea kesukaanku.

"Loh, ini dari siapa?" tanyaku menatap lurus ke matanya. Cantik, batinku.
"Dari Kak Dirga" jawabnya sambil melangkah menjauh. 
"Hai, tunggu. Makasih ya" lalu kuiringi langkahnya menuju selasar dimana dia masih juga dikelilingi bunga. Ya, kali ini bunga yang mengelilingi kumbang.

"Ga, thank you. Kok tau sih gue di dalam kehausan?" kedatanganku disambut tatapan "aduh ini cewek ganggu aja" dari mereka. Aku tak peduli.

Dia menarik tanganku dan mengajakku menjauh.

"Yo, Kamis elo ada asistensi?"
"Gak. Kenapa?"
"Great! Gue mau ngomong, penting. Jam 4 di tempat biasa" tanpa menunggu jawabanku, dia kembali ke posisinya semula, di tengah para bunga.

Dan akupun gelisah.

Risalah Tiga Hati (6)

February 22, 2018


Asinan-Bengkuang

When it comes to asinan bengkuang (pickled jicama) the yummiest one was the one made by my neighbor. Not only its taste, but the memory behind it, a beautiful and happy childhood, when life was simpler that prevent me from moving on. Unfortunately, she (my neighbor) has retired from making and selling it and left me in forever searching. Until one day, my sister came home brought me a packaged of asinan bengkuang.

At first, I was skeptical..afraid of having a broken heart if the taste is not as good as the one my neighbor made. Still I gave it a try and I was happy! This is it! My childhood's fav food.

By the way, do you know that Jícama is high in carbohydrates in the form of dietary fiber. It is composed of 86–90% water; it contains only trace amounts of protein and lipids. Its sweet flavor comes from the oligofructose inulin (also called fructo-oligosaccharide) which is a prebiotic. Jícama is very low in saturated fat, cholesterol and sodium. It is also a good source of potassium and Vitamin C. (Wikipedia)

So, let's make homemade pickled jicama, it's super easy. The recipe is from the late Bunda Inong, may God put her in the best place, aamiin.



Asinan Bengkuang

(Pickled Jicama)


Recipe from Dapur Bunda, modified by me

Ingredients:
4 medium jicama, peeled, sliced
3 medium cucumber, halved
4 tbsp sugar
4 tsp cooking vinegar
Salt as needed
500 ml water


Spices:
5 pcs red chili
15 pcs bird eye chili
Pinch of shrimp paste

How to:
1. Roughly ground spices. Set aside.
2. Boil water, add spices and reboil.
3. Add vinegar, sugar and salt. Mix until dissolve. Adjust the taste and reboil.Remove from the heat. Let it stand until cold.
4. Add jicama and cucumber. Refrigerated for one night.
5. Serve cold, better.


Enjoy!

Asinan-Bengkuang 2

Asinan Bengkuang (Pickled Jicama)

February 18, 2018

Bawang-Dayak

Kutinggalkan mereka berdua perlahan, berjalan ke luar cafe dengan menahan nafas. Aku tak mau mengganggu reuni mereka, dan aku tak mau menyakiti hatiku. 


Aku mencoba mencari arti dari semburat merah wajahnya saat laki-laki itu datang dan menyapa kami. Tapi satu-satunya yang bisa kubaca adalah "elo tau ini semua Ga?" dari sorot matanya. Kuanggukkan kepalaku dan bisa kulihat protes dimatanya, namun tak lama karena setelah itu kami tenggelam dalam percakapan yang terasa hambar bagiku.


Dalam hening kurebahkan badanku dan kupejamkan mataku, mencoba untuk melepaskan segala lelah, tapi bayangan mereka berdua tak kunjung hilang. Aku bisa merasakan getaran rindu saat tangan mereka berjabatan yang membuatku resah.

Entah mengapa kamarku terasa panas dan sesak,  mendadak seperti kucium bau bawang merah yang membuat mataku basah. 

Gue gak boleh nangis!

Risalah Tiga Hati (5)

February 15, 2018

Brownies

In this post I want to share you how I photographed "Brownies".

First, determine the concept. Concept will help me shorten the time consume in photographing food, as I already have idea about lighting, angle, props to use and styling. Concept can be determined after you know what you are going to photograph (the hero).


The concept of this photo is "Afternoon Tea" as for me, I like to eat brownies while enjoying the dusk. Chopping board was chosen to add more rustic feeling and messy styling applied to make it natural.

WS Bintaro.002>

Hope this simple post will give you some idea in photographing food.

Food Photography: Photographing Brownies

February 12, 2018

Noodle-in-Jar-Messy

Berantakan!

Ya, rencana yang telah kususun sekarang hancur berkeping-keping. Ketukan pintu pagi ini telah membuyarkan semua impianku.

Pagi tadi aku seperti melihat hantu waktu bunda memintaku untuk membuka pintu karena ada suara ketukan. Begitu pintu kubuka, kulihat dia, sosok yang selama ini menjadi salah satu penghalang keberanianku untuk menyatakan cintaku padanya. Laki-laki yang memintaku untuk menjaganya satu setengah tahun lalu.

"Ga, jagain Yo buat gue ya!" katanya sambil menepuk bahuku.
"Gue? Ada juga dia yang selama ini jagain gue" candaku untuk mengurangi suasana yang tiba-tiba terasa haru. .

Lamunanku terhenti kala sosok tersebut memelukku.

"Ga, apa kabar?"

Lalu kamipun larut dalam obrolan tentang segala hal yang terjadi dengannya di sana dan denganku di sini, semua hal kecuali tentang dia. Sampai akhirnya..

"Ga. Gue pengen balikan sama Yo"

Kata-kata yang kutunggu tapi sebenarnya tak ingin kudengar. Kata-kata yang membuat semua rencanaku berantakan. Harusnya lusa aku akan menyatakan cintaku padanya setelah kukumpulkan semua keberanian, keberanian yang timbul setelah kurasakan hangat jemarinya saat kami tak sengaja bersentuhan. Saat kutangkap binar di matanya kala mata kami tak sengaja bertabrakan. Aku bisa merasakan ada asa untukku dalam tatapan itu. Tapi sepertinya rencana ini harus tetap tersimpan sebagai angan.

Laki-laki itu menceritakan kerinduannya pada dia selama tiga bulan terakhir yang dilaluinya memikirkan bahwa dia adalah cinta yang membuatnya bahagia. Dan lusa, dia meminta bantuanku untuk mempertemukannya dengan dia karena sejak mereka berpisah, tak ada satupun komunikasi diantara mereka. .

Lusa! Perfect!
Lusa yang seharusnya menjadi milikku. Tapi aku tak kuasa untuk menolak permintaannya itu.

"Oke Ndra. Lusa kita ketemu di Cafe Kampus, kebetulan gue janjian sama Yo di sana"
"Thank you Ga, you are the best!"

Tiga tahun yang kujalani sepertinya tak sesakit tiga bulan yang dilewatinya. Setidaknya di tiga tahunku, dia selalu ada didekatku, hiburku.

Ga, elo kuat! Mantraku.

Risalah Tiga Hati (4)

February 8, 2018

Sayur-Asem-1

If you live abroard, a humble Indonesian food like "Sayur Asem" will become a fancy meal. In Bahasa Indonesia,
Sayur = Vegetable but sayur also means soup. Asem = Sour since Tamarind tastes sour, we translated Sayur Asem into Vegetables in Tamarind Soup.

I am West Sumatran descendant or known as Orang Minang. That's why, I'm gonna share you a Minangese version of Sayur Asem as its origin is West Java or Jakarta, not West Sumatera 😃.

Sayur-Asem-2

Sayur Asem
(Recipe by My Mom)

What You Need:

Spices:
5 shallots (bawang merah), peeled, finely sliced
3 clove of garlic, peeled, finely sliced
1 knucklebone galangal (lengkuas), peeled, bruised
3 red chilies, seeded out, angle sliced
3 green chilies, seeded out, angle sliced
1 tbsp ground red chilies
1 tbsp palm sugar (gula jawa)
2 pods of tamarind (asem jawa)
2 salam leaves (bay leaf)

Veggies:
3 chayote (labu siam), peeled, cored, cubed
2 corns, cut into 4 parts
3 snake beans (kacang
panjang), cut into 3cm
5 pcs jack fruit, halved

Sugar and salt to taste

Water as needed (around 1 liter)

Condiment:
Ikan Asin (salty fish)

Sayur-Asem

How To:

Boil water over high heat.
Fold in corn and all spices except tamarind. Reboil.
Add the rest of veggies and tamarind, continue cooking over medium heat until set.
Adjust the taste by adding salt and sugar to your liking. Turn off the heat.
Ready to serve with white steamed rice and salty fish.

Sayur-Asem-Nasi-Ikan-Asin
Guten Appetit!

In case you are asking, since my mom is not allowed to eat Melinjo (Belinjo), we always skip melinjo and add extra coyote (labu siam) as K, my son like it very much.

Have a nice weekend!


Sayur Asem (Veggies in Tamarind Soup)

February 5, 2018

hugging

Kupandangi pasangan yang sedang berpelukan itu Tubuhku menggigil, bukan karena Winter kali ini lebih dingin dari tahun kemarin, tapi karena aku bisa merasakan kerinduan dua insan itu, seperti kerinduanku padanya.

Enam bulan sudah tak kudengar lagi kabar tentangnya setelah kami sepakat untuk berpisah.

"Ndra, maafin aku ya, tapi aku gak bisa terus kayak gini" ada isakan tangis yang tertahan dalam suaranya. .

Bukan! Ini semua bukan karena dia tak mau menungguku pulang atau karena bosan berjauhan. Ini semua karena salahku sendiri, aku mengabaikannya. Hanya dua bulan pertama aku gencar menyapanya, menceritakan kehidupan baru di negara ini dan menyampaikan semua rindu. Hanya 2 bulan aku membiarkan rindu kami bertemu lewat video call tengah malam untuk kemudian perbedaan waktu panjang ini membuatku beralasan:

"Aku capek Yo, besok aja ya ngobrolnya"

Dan bisa kutangkap redup binar dimatanya walaupun senyumnya tetap mengembang.
Aku memang egois! Padahal kutau dia rela tetap terjaga demi kenyamananku. Ya, aku memintanya untuk video call setiap jam 8 malam disini yang artinya jam 1 dinihari di tanah air.

Pasangan itu, rindu mereka, dinginnya udara di taman ini seperti membangkitkan sejuta kenangan akannya dan menyadarkanku bahwa aku masih mencintainya. Aku harus pulang! Aku harus kembali ke Jakarta.

Ada yang tertinggal di sana
Cerita tentang kita dan pelukan rindu.

Aku rindu kamu Yo..
sangat!

Risalah Tiga Hati (3)

February 1, 2018

Instagram